Catatan Perjalanan • 10 Hari • Pulau Weh

10 Hari Menjelajah Sabang, dari Jalan Panjang hingga Laut Biru Iboih

Sebuah contoh blog perjalanan bergaya cerita dari Medan menuju Banda Aceh dan menyeberang ke Sabang—lengkap dengan aktivitas, makanan, penginapan, transportasi, biaya harian, dan momen-momen kecil yang membuat perjalanan terasa hidup.

2 orang 10 hari Estimasi inti Rp7,29 juta Gaya hemat-nyaman

“Sabang ternyata bukan destinasi yang perlu ditaklukkan dengan terburu-buru. Pulau ini justru terasa paling indah ketika perjalanan dibuat pelan: berhenti untuk kopi, menepi ketika melihat laut, lalu membiarkan hari berjalan tanpa terlalu banyak mengejar jam.”

Catatan penting: tulisan di bawah adalah contoh naratif untuk blog berdasarkan itinerary yang realistis, bukan klaim bahwa penulis benar-benar mengalami perjalanan ini. Harga adalah estimasi perjalanan 2 orang dan dapat berubah tergantung musim, tanggal, jenis kamar, cuaca, serta negosiasi di lokasi.

Perjalanan dimulai dari Medan dengan bus malam menuju Banda Aceh. Pilihan ini bukan yang tercepat, tetapi justru membuat transisi menuju Sabang terasa seperti petualangan darat yang utuh. Setelah menyeberang dari Ulee Lheue ke Balohan, ritmenya berubah total: jalanan lebih santai, pepohonan lebih rapat, dan hampir setiap tikungan terasa seperti mengarah ke laut.

Selama sepuluh hari, fokus perjalanan bukan hanya mengumpulkan tempat wisata. Ada hari untuk snorkeling di Rubiah, hari untuk duduk lama di Iboih, hari untuk berdiri di Kilometer Nol, dan ada juga hari yang sengaja dibuat lambat—hanya mengendarai motor, mencari seafood, lalu menunggu matahari turun.

Cerita Perjalanan, Hari demi Hari

Formatnya sengaja dibuat seperti blog personal: ada alur cerita, suasana, rekomendasi jam, pilihan makan, dan rincian uang yang keluar setiap hari.

Hari01
Medan → Banda Aceh • jalan panjang dimulai

Malam pertama dihabiskan di jalan, dan justru di situlah rasa liburan mulai muncul

Sore hari kami sengaja tidak membuat jadwal yang padat. Tas sudah selesai dipacking sejak siang: pakaian tipis, sandal, dry bag kecil, obat mabuk perjalanan, power bank, dan satu tas kosong untuk oleh-oleh. Menjelang malam kami berangkat menuju titik keberangkatan bus di Medan.

Begitu bus bergerak meninggalkan kota, suasananya pelan-pelan berubah. Lampu pertokoan makin jarang, jalan mulai panjang dan gelap, lalu badan otomatis masuk mode perjalanan. Karena akan menghabiskan malam di bus, kami memilih makan sebelum berangkat dan hanya membeli air mineral, kopi, serta sedikit camilan.

Ini memang bukan cara tercepat menuju Aceh, tetapi untuk perjalanan 10 hari, bus malam terasa masuk akal: satu malam penginapan bisa dihemat, dan pagi harinya kami sudah sampai di Banda Aceh.

Bus 2 orangRp500.000
Makan & camilanRp150.000
Total hari 1Rp650.000
Hari02
Banda Aceh → Balohan • akhirnya menginjak Pulau Weh

Satu penyeberangan singkat, lalu rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda

Pagi di Banda Aceh dimulai dengan sarapan sederhana, lalu kami bergerak ke Pelabuhan Ulee Lheue. Tiket kapal reguler kami jadikan pilihan paling hemat. Saat kapal mulai meninggalkan daratan, angin laut langsung membuat rasa lelah perjalanan darat semalam hilang sedikit demi sedikit.

Pelabuhan Balohan di Pulau Weh, Sabang
Balohan, gerbang utama menuju Pulau Weh. Foto: Tj Pramono / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Ketika kontur Pulau Weh mulai terlihat, kami baru benar-benar merasa “sampai”. Dari Balohan kami mengambil motor sewaan untuk beberapa hari. Motor menjadi pilihan paling fleksibel karena hampir semua perjalanan berikutnya melewati jalan pulau yang berkelok, dengan banyak titik yang membuat kami spontan ingin berhenti.

Malam pertama sengaja menginap di area Kota Sabang. Kami mencari kamar sederhana dengan kamar mandi pribadi dan AC, lalu menutup hari dengan nasi, ikan bakar, tumis sayur, dan kopi sanger.

Kapal 2 orangRp70.000
HotelRp300.000
Total hari 2Rp740.000
PengeluaranEstimasi
Kapal Ulee Lheue–Balohan, 2 dewasaRp70.000
Transfer lokal menuju pelabuhanRp50.000
Sewa motorRp100.000
PenginapanRp300.000
Makan 2 orangRp220.000
TotalRp740.000
Hari03
Sumur Tiga • Anoi Itam • bunker Jepang

Hari ketika kami berhenti terlalu sering hanya karena laut di sebelah jalan terlalu cantik

Hari ketiga adalah hari pertama yang benar-benar terasa santai. Kami keluar setelah sarapan, mengisi bensin, lalu menuju Sumur Tiga. Tidak ada target jam yang ketat. Prinsipnya sederhana: kalau melihat pemandangan bagus, berhenti saja.

Di Sumur Tiga kami duduk cukup lama. Airnya terang, pasirnya kontras, dan suara ombak tidak terlalu agresif. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke sisi timur pulau menuju Anoi Itam dan beberapa peninggalan bunker Jepang. Nuansanya berbeda—lebih liar, sedikit lebih sepi, dengan garis pantai yang terasa dramatis.

Sore menjelang malam kami kembali ke kota. Makan malam kali ini sederhana: mie Aceh, nasi goreng, dua minuman, lalu jajan kecil di perjalanan pulang.

HotelRp300.000
Motor + bensinRp130.000
Total hari 3Rp680.000
Hari04
Iboih • Pulau Rubiah • snorkeling

Inilah hari yang membuat kami paham kenapa orang bisa betah berulang kali kembali ke Sabang

Setelah tiga hari berpindah-pindah, kami memindahkan penginapan lebih dekat ke Iboih. Begitu sampai, pemandangannya seperti hadiah: air bening, perahu kecil, bukit hijau, dan suasana yang jauh lebih tenang daripada kota.

Air laut jernih di Iboih, Sabang
Pantai Iboih, salah satu titik paling populer untuk menikmati laut dan menuju Pulau Rubiah. Sumber gambar: Traveloka.

Dari Iboih kami menyewa perlengkapan snorkeling dan berbagi perahu untuk menyeberang ke Rubiah. Di bawah permukaan, suasana langsung berubah total: ikan berwarna-warni bergerak di antara karang, air cukup jernih untuk melihat dasar di area dangkal, dan waktu terasa berjalan terlalu cepat.

Siang kami makan dekat pantai—ikan, nasi, sayur, kelapa muda. Sore tidak diisi apa-apa. Kami hanya duduk di dekat dermaga sambil melihat perahu pulang satu per satu. Justru bagian tanpa jadwal itu menjadi salah satu momen terbaik sepanjang perjalanan.

Perahu PPRp200.000
Alat snorkelingRp80.000
Total hari 4Rp980.000
PengeluaranEstimasi
Penginapan area IboihRp320.000
Sewa motorRp100.000
Makan 2 orangRp250.000
Sewa alat snorkeling 2 orangRp80.000
Perahu PP ke RubiahRp200.000
Parkir/biaya kecilRp30.000
TotalRp980.000
Hari05
Kilometer Nol • Gua Sarang • sunset

Berdiri di ujung barat Indonesia, lalu menutup hari di antara tebing dan laut

Pagi kami berangkat menuju Kilometer Nol. Jalan menuju ke sana berliku dan hijau. Ada beberapa bagian di mana monyet liar bisa terlihat di pinggir jalan, jadi makanan dan barang kecil kami simpan rapat di dalam tas.

Tugu Kilometer Nol Indonesia di Sabang
Tugu Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Foto pemerintah/BPKS via Wikimedia Commons, public domain di Indonesia.

Sesampainya di tugu, suasananya terasa simbolis. Tidak perlu lama-lama; cukup berjalan mengelilingi area, mengambil foto, membeli minuman, lalu berdiri sebentar memandang laut terbuka. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke kawasan Gua Sarang.

Untuk kami, bagian terbaik Gua Sarang bukan hanya guanya. Pemandangan dari atas teluk justru membuat langkah melambat. Kami memilih tidak memaksakan trekking terlalu jauh, menikmati titik pandang yang aman, lalu menunggu warna langit turun sedikit demi sedikit.

MakanRp230.000
Motor + bensinRp130.000
Total hari 5Rp730.000
Hari06
Gapang • hari santai di laut

Tidak semua hari harus penuh destinasi; hari keenam sengaja kami kosongkan setengahnya

Setelah beberapa hari cukup aktif, kami sengaja menurunkan tempo. Tujuannya hanya Gapang. Pagi dihabiskan untuk sarapan agak lama, kemudian berkendara santai menyusuri jalan pantai.

Di Gapang, kami tidak mengambil paket diving agar budget tetap ringan. Sebagai gantinya kami berenang, duduk di tepi air, minum kopi, dan menghabiskan waktu membaca. Bagi yang ingin mencoba diving, hari ini adalah slot paling cocok untuk menambah aktivitas tersebut, tetapi biayanya sebaiknya dimasukkan sebagai ekstra di luar total utama.

Malam kembali ke penginapan. Hari ini justru terasa mewah karena tidak dikejar itinerary.

HotelRp300.000
MakanRp220.000
Total hari 6Rp660.000
Hari07
Jaboi • sisi vulkanik Pulau Weh

Dari laut biru ke aroma belerang—Pulau Weh ternyata punya wajah yang sangat berbeda

Pagi kami menuju kawasan Jaboi. Setelah berhari-hari bermain di pantai, lanskap di sini terasa kontras. Jalan mengarah ke area yang lebih kering, lalu perlahan muncul tanda-tanda aktivitas vulkanik. Kami berjalan seperlunya dan tetap mengikuti jalur yang aman.

Sepulang dari Jaboi, kami mengambil rute memutar agar bisa menikmati pemandangan sekitar Balohan. Makan siang dilakukan di warung lokal, sedangkan malamnya kembali mencari seafood sederhana.

Yang paling terasa hari ini adalah betapa kecilnya pulau ini di peta, tetapi variasi alamnya luas: laut, hutan, tebing, pantai hitam, sampai kawasan vulkanik.

MotorRp100.000
MakanRp220.000
Total hari 7Rp660.000
Hari08
Kota Sabang • kuliner • oleh-oleh

Hari tanpa target: mencari makanan enak, mengulang tempat favorit, dan membeli sedikit kenang-kenangan

Hari kedelapan kami anggap sebagai buffer. Kalau cuaca di hari sebelumnya buruk, aktivitas snorkeling atau Kilometer Nol bisa dipindahkan ke sini. Karena cuaca dalam skenario perjalanan ini cukup bersahabat, kami memakai hari ini untuk kembali ke beberapa spot yang paling disukai.

Pagi kami mampir untuk kopi, siang makan mie Aceh dan seafood, lalu sore berkeliling kota. Oleh-oleh dibatasi sekitar Rp200.000 supaya total perjalanan tidak membengkak. Kami memilih barang kecil yang gampang dibawa daripada membeli terlalu banyak.

Malamnya, kami mulai menyadari perjalanan hampir selesai. Ada rasa malas untuk mengepak barang karena ritme Sabang sudah terlanjur terasa nyaman.

Oleh-olehRp200.000
MakanRp250.000
Total hari 8Rp850.000
Hari09
Balohan → Banda Aceh • kembali ke daratan

Meninggalkan Sabang terasa lebih berat daripada saat datang

Pagi kami mengembalikan motor dan bergerak menuju Balohan. Di kapal pulang, Pulau Weh perlahan menjauh. Lucunya, perjalanan penyeberangan yang sama terasa berbeda: saat datang semuanya terasa penuh ekspektasi, sementara saat pulang justru penuh kilas balik.

Setelah tiba di Banda Aceh kami tidak langsung mengejar bus malam. Satu malam sengaja dihabiskan di kota agar perjalanan pulang tidak terlalu melelahkan. Sore bisa dipakai berjalan santai, menikmati kopi Aceh, dan makan malam tanpa buru-buru.

Kapal 2 orangRp70.000
Hotel Banda AcehRp300.000
Total hari 9Rp690.000
Hari10
Banda Aceh → Medan • perjalanan ditutup

Pulang membawa kulit sedikit lebih gelap, galeri foto penuh, dan perasaan ingin kembali

Hari terakhir tidak kami isi dengan wisata. Setelah sarapan dan check-out, fokusnya hanya perjalanan pulang. Kami membeli bekal, air minum, lalu naik bus menuju Medan.

Di perjalanan pulang kami mulai menghitung ulang pengeluaran. Ternyata sepuluh hari masih bisa dibuat cukup nyaman tanpa harus terasa boros. Kami tidak menginap di resort mahal setiap malam, tidak mengambil semua paket tur, dan lebih banyak menggunakan motor untuk berpindah tempat. Tapi justru pola seperti itulah yang membuat perjalanan terasa personal.

Sabang bagi kami bukan tentang satu destinasi paling indah. Yang paling membekas adalah kombinasi semuanya: jalanan yang berkelok, air jernih Iboih, sore yang sunyi, aroma kopi, perahu kecil ke Rubiah, dan momen ketika kami sadar sepuluh hari ternyata tetap terasa terlalu singkat.

Bus 2 orangRp500.000
Makan & bekalRp150.000
Total hari 10Rp650.000

Galeri Sabang

Foto-foto ini dipasang sebagai visual pendukung di dalam template. Anda bisa menggantinya dengan foto perjalanan pribadi nanti.

Rekap Total Biaya

Perkiraan untuk 2 orang dengan pola hemat-nyaman. Diving, hotel premium, belanja besar, dan tiket atraksi khusus tidak dimasukkan.

KategoriTotal
Bus Medan ↔ Banda AcehRp1.000.000
Makan & minum 10 hariRp2.130.000
Kapal PP Banda Aceh ↔ SabangRp140.000
Transfer lokal/akses pelabuhanRp150.000
Sewa motor 7 hariRp700.000
BensinRp60.000
Penginapan totalRp2.440.000
Tiket kecil/parkir/kontribusi lokasiRp190.000
Sewa snorkeling 2 orangRp80.000
Perahu PP Iboih–RubiahRp200.000
Oleh-oleh sederhanaRp200.000
GRAND TOTALRp7.290.000

Tips Agar Perjalanan Lebih Nyaman

Beberapa hal kecil sangat membantu, terutama karena sebagian besar itinerary dilakukan dengan motor dan aktivitas laut.

1. Sisakan satu hari buffer

Cuaca laut bisa mengubah jadwal snorkeling atau kapal. Hari kedelapan sengaja dibuat fleksibel agar itinerary tidak mudah berantakan.

2. Jangan terlalu mengejar destinasi

Pulau Weh paling enak dinikmati perlahan. Satu hari dengan dua tempat sering terasa lebih menyenangkan daripada enam tempat sekaligus.

3. Bawa uang tunai secukupnya

Di kawasan wisata kecil, pembayaran tunai tetap praktis. Pisahkan uang perjalanan, makan, dan dana darurat supaya pengeluaran lebih mudah dikontrol.

4. Gunakan dry bag

Untuk Iboih dan Rubiah, dry bag kecil berguna untuk HP, dompet, power bank, dan dokumen.

5. Berkendara santai

Jalan di Pulau Weh berkelok dan naik-turun. Hindari berkendara terburu-buru, terutama saat hujan atau menjelang malam.

6. Hormati kebiasaan setempat

Aceh memiliki norma berpakaian dan perilaku yang cenderung lebih konservatif. Pilih pakaian yang sopan ketika berada di kota atau area publik non-pantai.