“Sabang ternyata bukan destinasi yang perlu ditaklukkan dengan terburu-buru. Pulau ini justru terasa paling indah ketika perjalanan dibuat pelan: berhenti untuk kopi, menepi ketika melihat laut, lalu membiarkan hari berjalan tanpa terlalu banyak mengejar jam.”
Perjalanan dimulai dari Medan dengan bus malam menuju Banda Aceh. Pilihan ini bukan yang tercepat, tetapi justru membuat transisi menuju Sabang terasa seperti petualangan darat yang utuh. Setelah menyeberang dari Ulee Lheue ke Balohan, ritmenya berubah total: jalanan lebih santai, pepohonan lebih rapat, dan hampir setiap tikungan terasa seperti mengarah ke laut.
Selama sepuluh hari, fokus perjalanan bukan hanya mengumpulkan tempat wisata. Ada hari untuk snorkeling di Rubiah, hari untuk duduk lama di Iboih, hari untuk berdiri di Kilometer Nol, dan ada juga hari yang sengaja dibuat lambat—hanya mengendarai motor, mencari seafood, lalu menunggu matahari turun.

